Jumat, 17 Oktober 2008

Krisis Global

Hampir setiap hari selama lebih dari sepekan ini liputan berita selalu diramaikan dengan headlines tentang masalah krisis global. Krisis ini disebutkan berpunca karena krisis keuangan yang tengah melanda Amerika Serikat yang diakibatkan dari tunggakan kredit perumahan di negeri Paman Sam itu terus membeludak. Tunggakan kredit yang disebut “Subprime mortgage” itu perlahan tapi pasti telah meluluhlantakkan likuiditas bank-bank disana. Selanjutnya apa daya, karena awalnya adalah dari Amerika maka mau tak mau krisis terus merambat dampakya keseluruh dunia, jadilah yang disebut krisis global. Negara super power yang jadi nenek moyang nya system keuangan liberal dan menjadi fondasi sistem keunganan dunia itu kalau sudah goyang pasti juga akan menggoyangkan sendi-sendi perekonhttp://en.wikipedia.org/wiki/Centrinoomian negara-negara dunia lainnya. Jangankan Asia, Negara-negara di Eropa & Australia yang dikabarkan punya fondasi keuangan yang gagah pun mulai kelabakan. Indonesia??? Apalagi.. Negara yang eksport, import, investasi, dan system pembayaran internasionalnya sangat tergantung dari Amerika ini, sudah pasti jadi hampir setengah kiamat menghadapinya, kalau tak mau dibilang lebih parah daripada yang empunya problem. Ini terbukti dari terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dunia lainnya terutama dollar Amerika. Disusul dihentikannya perdangan di bursa saham Indonesia (09/10/08) sebagai akibat dari terus menurunnya harga saham-saham yang diperdagangkan. Tak tanggung-tanggung, aktivitas bursa Indonesia lumpuh selama tiga hari berturut-turut.

Penghentian bursa saham ini pun kemudian menjadi berita utama yang secara kontiniu disuguhkan pada masyarakat Indonesia. Apalagi kejadian semacam ini adalah yang pertama kali terjadi sejak perdagangan bursa ada di negeri ini. Bahkan mungkin ini menjadi berita utama di belahan dunia lainnya, karena belum ada bursa lain yang tutup akibat imbas krisis gelobal ini. Kehidupan perekonomian masyarakat secara tidak langsung pun jadi terimbas. Sektor perkebunan yang menjadi andalan masyarakat Indonesia ikut hancur. Entah dari mana hubungannya rakyat pun tak tahu, tapi yang pasti harga komoditas sawit dan karet yang menjadi tumpuan ekinoomi masyarakat jatuh bahkan hingga lebih dari 70%. Membuat rakyat jadi sesak karena harus terus menerus dihadapkan pada segala macam krisis. Dimulai dari krisis ekonomi pada tahun 1997, krisis pangan, krisis energi, dan yang sekarang terjadi krisis global terjadi susul menyusul.

Kasihan masyarakat, padahal mereka tidak tahu ujung pangkal persoalan ini, apalagi untuk turut andil menjadi penyebabnya. Tapi apa lacur, mau tak mau mereka harus juga merasakan dampaknya, bahkan mereka pula yang paling terbebani dalam menghadapinya.

Sebagai orang awam dan orang yang kehidupannya juga bergantung pada sector pertanian turut hancur itu, mau tak mau saya jadi ikut terus memikirkan nya. Kenapa harus kami, masyarakat awam dan petani-petani yang di pedesaan ini yang harus ikut memanggul dampak krisis yang terus-terusan ini. Padahal sebagaimana yang diberitakan di media-media, penyebabnya adalah nun jauh di negeri Amerika sana. Negeri yang jauh sekali jaraknya bahkan jauh pula dari pikiran kami. Negeri yang kami sebut negeri antah berantah karena nenek moyang kami pun tak pernah menceritkannya pada kami, apalagi untuk menginjakkan kaki di negeri Amerika itu.

Tak pelak lagi, mulai dari presiden, wapres, hingga pengamat dan penasehat investasi dan keuangan terus menerus mengulas kejadian ini. Bahkan cenderung mengajak masyarak untuk berinvestasi di dunia saham. “ini saat yang tepat untuk membeli saham dan instrument-instrumen investasi lainya. Karena harga yang terjadi saat ini sedang sangat murah, dan pasti akan rebound kembali di masa depan”, ulas para pakar-pakar tersebut. Analisis itu tentu akan sangat menarik bagi pemain-pemain saham dan dan orang yang memang berkecimpung disitu. Tapi bagi kami orang yang tinggal jauh dipelosok pedesaan, kami hanya bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi dari berita-berita yang ada. Jangan kan ikut berinvestai seperti ajakan pengamat tadi, bagaimana bentuk saham, bagaimana proses dan dimana membeli saham itupun masih diawang-awang dalam pikiran kami

Yah..dasar nasib jadi wong ndeso, kami hanya bisa ikut merasakan dampak buruk dari berbagai krisis yang terus menerus diberitakan kepada kami. Kami tak pernah megerti duduk persoalannya, apalagi ikut andil menjadi penyebabnya. Kami hanya termangu mendengar kejadian demi kejadian, krisis demi krisis yang diberitakan media. Bagaimana mungkin kami bisa menikmati kesempatan dan keuntungan dari kondisi rebound yang diperhitungkan dari para analis investasi itu. Padahal mungkin sebagaian orang-orang yang punya dana segar dikota sana, saat ini sudah merauh untung yang fantastis dari kondisi keungan seperti ini. Sebut saja dalam sepekan ini mungkin sudah miliaran rupiah angka keuntungan yang mereka dapat dari bermain valas dan saham yang mulai rebound itu. Tapi bagi kami orang-orang pelosok yang terpinggirkan ini hanya bisa merasakan pahit getirnya dampak yang disebut krisis itu, tanpa tahu bagaimana caranya agar dapat juga menikmati kesempatan seperti mereka.

2 komentar:

Afif mengatakan...

Tulisan ini sangat menyentuh sekali. baik dari tata bahasa dan baik juga isinya. Benar kata mas afif itu, Anerika yang punya masalah kenapa kita rakyak awam disini juga ikut kena getahnya. Aneh jga ya..

Afif mengatakan...

its..great....