Hampir setiap hari selama lebih dari sepekan ini liputan berita selalu diramaikan dengan headlines tentang masalah krisis global. Krisis ini disebutkan berpunca karena krisis keuangan yang tengah melanda Amerika Serikat yang diakibatkan dari tunggakan kredit perumahan di negeri Paman Sam itu terus membeludak. Tunggakan kredit yang disebut “Subprime mortgage” itu perlahan tapi pasti telah meluluhlantakkan likuiditas bank-bank disana. Selanjutnya apa daya, karena awalnya adalah dari Amerika maka mau tak mau krisis terus merambat dampakya keseluruh dunia, jadilah yang disebut krisis global. Negara super power yang jadi nenek moyang nya system keuangan liberal dan menjadi fondasi sistem keunganan dunia itu kalau sudah goyang pasti juga akan menggoyangkan sendi-sendi perekonhttp://en.wikipedia.org/wiki/Centrinoomian negara-negara dunia lainnya. Jangankan Asia, Negara-negara di Eropa &
Penghentian bursa saham ini pun kemudian menjadi berita utama yang secara kontiniu disuguhkan pada masyarakat
Kasihan masyarakat, padahal mereka tidak tahu ujung pangkal persoalan ini, apalagi untuk turut andil menjadi penyebabnya. Tapi apa lacur, mau tak mau mereka harus juga merasakan dampaknya, bahkan mereka pula yang paling terbebani dalam menghadapinya.
Sebagai orang awam dan orang yang kehidupannya juga bergantung pada sector pertanian turut hancur itu, mau tak mau saya jadi ikut terus memikirkan nya. Kenapa harus kami, masyarakat awam dan petani-petani yang di pedesaan ini yang harus ikut memanggul dampak krisis yang terus-terusan ini. Padahal sebagaimana yang diberitakan di media-media, penyebabnya adalah nun jauh di negeri Amerika
Tak pelak lagi, mulai dari presiden, wapres, hingga pengamat dan penasehat investasi dan keuangan terus menerus mengulas kejadian ini. Bahkan cenderung mengajak masyarak untuk berinvestasi di dunia saham. “ini saat yang tepat untuk membeli saham dan instrument-instrumen investasi lainya. Karena harga yang terjadi saat ini sedang sangat murah, dan pasti akan rebound kembali di masa depan”, ulas para pakar-pakar tersebut. Analisis itu tentu akan sangat menarik bagi pemain-pemain saham dan dan orang yang memang berkecimpung disitu. Tapi bagi kami orang yang tinggal jauh dipelosok pedesaan, kami hanya bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi dari berita-berita yang ada. Jangan
Yah..dasar nasib jadi wong ndeso, kami hanya bisa ikut merasakan dampak buruk dari berbagai krisis yang terus menerus diberitakan kepada kami. Kami tak pernah megerti duduk persoalannya, apalagi ikut andil menjadi penyebabnya. Kami hanya termangu mendengar kejadian demi kejadian, krisis demi krisis yang diberitakan media. Bagaimana mungkin kami bisa menikmati kesempatan dan keuntungan dari kondisi rebound yang diperhitungkan dari para analis investasi itu. Padahal mungkin sebagaian orang-orang yang punya dana segar dikota

2 komentar:
Tulisan ini sangat menyentuh sekali. baik dari tata bahasa dan baik juga isinya. Benar kata mas afif itu, Anerika yang punya masalah kenapa kita rakyak awam disini juga ikut kena getahnya. Aneh jga ya..
its..great....
Posting Komentar