Rabu, 12 November 2008

“ANAKKU PRESIDEN”


“ANAKKU PRESIDEN”

Anakku adalah seorang Presiden”!. Tiba-tiba saja ucapan itu keluar dari bibirku. Saat itu seorang teman bertanya, bagaimana pandangan ku sebagai seorang calon ayah melihat masa depan anaknya kelak. Meskipun jawaban itu secara tiba-tiba tapi tentu itu bukan jawaban yang main-main. Bukan jawaban yang keluar begitu saja seperti angin lalu dan tanpa arti yang mendalam. Sebuah jawaban yang memiliki harapan dari relung hati paling dalam. Lebih jauh, itu adalah doa, cita-cita dan tekad seorang calon bapak untuk membuat anaknya menjadi seseorang yang “besar”. Ya, sebuah doa dan harapan yang kupanjatkan kehadirat Allah, agar kelak anakku menjadi seorang pemimpin besar, seseorang yang penuh manfaat bagi kehidupan manusia di muka bumi ini.
Tentu harapan itu bukan harapan yang sederhana. Harapan itu adalah sebuah cita-cita besar yang membutuhkan pengorbanan, kesabaran, kearifan dan keteladanan dalam mendidik anak-anakku. Penuh tantangan dan cobaan dalam mendidik putra putri kita sampai mereka mampu mandiri. Apalagi bercita-cita menjadi kan mereka menjadi seorang presiden, seorang pemimpin besar. Memang perkara cita-cita tentulah menjadi hak mereka kelak untuk memutuskannya sendiri. Hak mereka lah untuk memilih profesi yang akan ditekuninya kelak sesuai dengan bakat dan bidang yang mereka sukai. Tapi apakah sebagai orang tua tak boleh memiliki impian yang terbaik bagi putra putrinya?
Mempersiapkan dan membekali putra-putri kita sejak dini untuk menjadi yang terbaik adalah jawabannya. Idealnya seorang ayah harus mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang paling tinggi. Bahkan jika memungkinkan, menyekolahkan mereka ke sekolah dan universitas-universitas terbaik dimuka bumi ini. Sebuah tantangan yang amat sangat besar. Tantangan yang memerlukan kesungguhan, tekad dan energi yang besar. Sebuah tantangan yang memerlukan keberanian seorang ayah untuk bercita-cita demi anak-anaknya. Dan tantangan itu telah menanti di depan mata.
“Membesarkan” seorang anak bukan lah hal sepele. Sebagai seorang Pegawai negeri rendahan, hal yang paling terbayang adalah biaya yang tidak sedikit itu. Bagaimana dapat membiayai mereka kelak hingga ke pendidikan tinggi, apalagi disekolah dan universitas terbaik yang berada di luar negeri. Belum lagi masalah-masalah lain seperti bagaimana memotivasi mereka untuk punya cita-cita yang tinggi dan punya semangat yang tinggi pula untuk menggapainya. Bagaimana memicu mereka agar selalu mencoba menjadi yang terbaik. Bagaimana membentengi akhlak dan ketaatan mereka dalam agamanya. Karena begitu besar tantangan dan godaan yang akan mendera dalam kehidupan mereka kelak. Masalah pergaulan bebas, kenakalan remaja, narkotika, kehilangan motivasi dan banyak lagi masalah yang harus selalu menjadi perhatian orang tua agar putra-putrinya mampu melewatinya dengan berhasil.

Orangtua yang baik akan mendidik dengan penuh kedisplinan, kearifan dan ketauladanan. Sebagai orangtua kita harus mampu memotivasi, menyemangati dan mentauladani anaknya untuk berprestasi dan mengejar cita-cita yang tinggi. Namun bagaimana si anak bisa termotivasi bila orang tuanya saja bukan sipa-siapa, aku hanya pegawai negeri rendahan. Bagaimana mereka akan meniru menjadi pemimpin besar bila dalam lingkungan keluarga besar kami bahkan tak ada satu orang “besar” pun ada dalam silsilah keluarga ini. Namun dengan ketulusan dan untaian tetes keringatku demi pendidikan mereka, aku yakin anak-anakku akan memahaminya. Suatu saat mereka akan jadi orang “besar” itu.
Aku sadar, dalam silsilah keluarga belum ada catatan sejarah yang mengatakan ada dikeluarga besar kami yang telah pernah menjadi pemimpin dalam masyarakat. Jangankan menjadi seorang presiden, gubernur atau bupati, menjadi seorang camat atau bahkan kepala desa saja belum pernah lahir dari keluarga ini. Jadi bagaimana mungkin anak-anak kami bisa jadi seorang presiden, sudah kalah start dengan anak-anak pejabat dan pemimpin yang saat ini sudah berkuasa. Padahal seperti kita mafhumi bersama, unsur keluarga sangat menonjol untuk dapat bersaing. Baik di tingkat dunia apatah lagi di negeri kita ini. Lihat saja George Bush junior besar dengan Bush senior. Megawati Soekarno Putri, juga besar karena disokong nama besar Bapaknya. Abdurrahman Wahid atau Gusdur, bapakya juga mantan seorang mentri kabinet di jaman nya. Susilo Bambang Yudhoyono, setidaknya dia adalah menantu dari petinggi ABRI, dan masih banyak nama lainnya. Tentu saja hal-hal seperti itu sangat berpengaruh dalam membentuk koneksi-koneksi ke lingkungan kekuasaan apalagi di negeri ini. Lantas bagaimana dengan anak-anak kami yang tingkat koneksi orang tuanya mungkin baru hanya sebatas desa dan lingkungan tempat tinggal kami?? Mustahilkah..??
Aku yakin, tak ada kata mustahil di dunia ini. Apalagi jika kita berbicara dalam konteks kekinian, saat tulisan ini ku buat. Saat dunia sedang menyaksikan kelahiran seorang pemimpin dunia baru. Ya seorang pemimpin baru di Negara Adi Kuasa yang baru saja terpilih, Barrack Obama. Seorang anak dari ayah Kenya-Afrika. Seorang anak dengan latar minoritas di negeri Adi daya itu. Seseorang yang pernah terombang ambing dari Indonesia hingga afrika untuk mencari keluarga dan jati dirinya. Seseorang yang jauh dari lingkungan kekuasaan. Seseorang yang bahkan sebagian besar keluarganya Muslim, agama yang paling dibenci oleh penduduk Amerika saat ini. Seorang minoritas yang minim pengalaman. Namun kini ia telah menjelma menjadi pemimpin dunia. Menjadi Mr. Presiden di negara terbesar di muka bumi ini. Ya.. seorang barack Obama telah membuktikan. Jadi tidak ada kata yang tidak mungkin Anankku. Gantungkan cita-citamu setuinggi-tingginya dan raihlah. Jadilah orang besar nak. Jadilah orang yang mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik di bumi ini. Jadilah seorang pemimpin sejati yang selalu dirindukan oleh masyarakatmu. Doa kami orang tua mu slelalui merestuimu. Amiiin… 04 11 2008

Tidak ada komentar: