Kamis, 08 Januari 2009

Filza Rizkia Afif


Filza Rizkia Afif, Nama itu kami berikan pada putri pertama kami yang baru saja lahir. Berasal dari bahasa arab. Filza atau Filzah berarti Belahan jiwa. Selain itu Filza juga merupakan akronim atau gabungan dari nama kami, Afif dan Liza. Nama itu disodorkan oleh istriku setelah ia browsing di dunia maya. Well, aku juga merasa cocok dengan nama itu.

Rizkia berarti rizki, kutambahkan nama itu karena aku menyadari bawa putri kami ini merupakan sebuah karunia yang tiada terhingga nilainya. Rezeki yang telah dititipkan Allah SWT kepada kami sebagai orang tua nya. Juga menjadi doa untuk kami sekeluarga, mudah-mudahan dengan kehadiran Purti kami yang cantik jelita ini akan menambah rezeki untuk kami dan bagi dirinya.

Sedangkan Afif, diambil dari nama ku. Yang juga punya arti orang yang punya harga diri/matabat. Harapannya kelak dia menjadi orang yang dapat menjaga kesuciannya dan punya martabat dalam kehidupannya kelak. Jika digabungkan nama putri kami ini bermakna Rezeki Belahan Jiwa yang punya martabat tinggi. Atau jika di sederhanakan lagi berarti Karunia Anak yang bermartabat. Ya mudah-mudahan saja nama yang kami rancang itu juga diterima oleh kakek dan neneknya. Seperti yang dimafhumi dalam tradisi keluarga kami, kehormatan untuk memberikan nama anak adalah kepada kakek atau siapapun yang ditunjuk olehnya untuk memberikan nama. Biasanya mereka adalah tetua-tetua atau pemuka agama yang ada dilingkungan keluarga kami. Mereka bahkan dianggap lebih pantas memberikan nama dari pada orang tuanya sendiri. Yah, itulah tradisi…

Senin, 01 Desember 2008

Inspirasi

Anak-anak muda di negeri ini perlu banyak mendapat inspirasi dari orang-orang yang sukses. Saya mensinyalir keterpurukan bangsa ini disebabkan pemuda-pemudinya tak pernah terinspirasi untuk meraih kesuksesan. Bahkan anak-anak muda di negeri ini rata-rata ini tak punya cita-cita yang ingin diraih. Bila generasi muda sudah tanpa cita-cita dalam hidupnya, tentu akan berpengaruh pada tekad dan kerja kerasnya. Karena dengan cita-cita itu lah orang punya tujuan hidup. Tujuan yang akan diraihnya dengan sekuat tenaga.

Kebanyakan anak-anak muda di negeri ini, terlebih yang tinggal di pedesaan atau daerah-daerah yang masih terbelakang, sedikit sekali mendapat inspirasi dari orang atau tokoh-tokoh sukses. Kebanyakan anak-anak muda disana masih sebatas terinspirasi pada tokoh-tokoh sukses dibidang informal. Misalkan keberhasilan menjadi pedagang dan saudagar sukses yang ada disekitar lingkungan mereka tinggal. Saudagar-saudagar itu pada umumnya berhasil karena kegigihannya dalam menjalankan bisnisnya, tetapi sama sekali bukan karena keberhasilan mereka menimba ilmu di sekolahan formal. Bahkan kadang para saudagar-saudagar itu tak segan menginspirasi anak-anak muda di sekelilingnya untuk tak perlu bersekolah. Sebab seperti mereka pun tak pernah mengenyam pendidikan sekolah, tapi mereka mampu sukses di kehidupan ini menurut versi mereka.

Mungkin saja hal seperti ini lah yang menjadi sebab kurangnya motivasi dan semangat belajar di kalangan remaja kita. Mereka lebih terobsesi dengan keberhasilan versi saudagar sukses tadi. Bagi mereka inspirasi seperti itu lebih nyata dan masuk akal bagi mereka, ketimbang harus bersusah payah bersekolah hingga tinggi tapi kebanyakannya hanya akan berakhir menjadi penganguran. Mungkin juga karena masih sedikit atau bahkan tak ada seorangpun yang menjadi tokoh atau sukses melalui jalur pendidikan formal yang pernah mereka saksikan berasal dari lingkungan mereka. Bersekolah tinggi, jika beruntung hanya menjadi Pegawai Negeri. Jika pun ada yang bisa punya kedudukan atau jabatan di lingkungan pemerinahan daerah, itu lebih disebabkan karena faktor keberuntungan dan kekerabatan. Seperti yang memang lazim terjadi di daerah.

Memang, tak ada ukuran yang pasti untuk mengatakan seseorang telah sukses atau belum dalam kehidupannya. Dalam kehidupan di masyarakat pedesaan, seseorang dianggap telah sukses apabila telah memiliki pekerjaan tetap dan mampu menafkahi kehidupan keluarganya secara baik. Seperti pada umumnya anak-anak muda di daerah, menjadi PNS, anggota TNI atau Polri, adalah cita-cita tertinggi. Menjadi tujuan akhir bersekolah dan puncak dari kesuksesan. Anak-anak itu bersekolah hanya demi mendapatkan sertifikat kelulusan, bukan untuk mengejar ilmu pengetahuan. Tak heran jika mereka tak benar-benar memaknai lembaga pendidikan itu secara benar. Sebuah lembaga yang membuka kesempatan untuk merubah pemikiran dan kehidupan mereka kearah yang jauh lebih baik. Apalagi ditambah dengan rendahnya kualitas dan bobroknya system pendidikan di negeri ini. Cukup dengan iming-iming uang pelicin, sertifikat pasti didapat.

Padahal diluar sana, begitu banyak harapan yang bisa diraih. Intinya, cita-cita apapun yang dimiliki anak negeri ini bisa mereka wujudkan, asalkan mereka punya tekad dan gigih meraih nya. Hal yang paling mendekati untuk tercapainya suatu cita-cita adalah dengan belajar dengan sebaik-baiknya, apapun bentuknya. Dan cara pembelajaran yang paling mudah di dapati tentu dari lembaga pendidikan formal. Ketika seorang anak manusia telah memiliki ilmu, wawasan dan pengetahuan yang mumpuni di suatu bidang, terapkanlah dan semua akan terlihat seperti air mengalir membawanya kesamudera keberhasilan.

Lagi-lagi, keyakinan akan keberhasilan inilah yang harus terus menerus disuntikkan kepada kalangan muda negeri ini. Mereka seakan-akan tak percaya dengan kisah orang “kecil” bisa menjadi “besar” jika tak melihat dan mengikuti perjalan orang sukses itu dengan mata kepalanya sendiri. Namun jika pun mereka bisa melihat kegigihan dan kerja keras seseorang untuk berhasil, kebanyakan mereka juga akan menyandarkan keberhasilan itu akibat faktor keberuntungan. Untuk itu berikanlah anak-anak muda ini cerita-cerita yang menginspirasi. Cara termudah untuk itu adalah dengan mengajak mereka banyak membaca buku-buku tentang tokoh-tokoh sukses. Cerita-cerita dari orang-orang sederhana terdahulu yang telah mengguncang dunia. Begitu banyak orang-orang “kecil” yang berubah menjadi “raksasa” dengan keyakinan, kegigihan dan tekadnya meraih cita-cita. Semoga saja dengan begitu mereka juga akan terinspirasi…

Kamis, 27 November 2008

Hebatnya Aku

Aku baru tahu bahwa yang berada didepanku adalah seorang anak Bupati di daerah tempatku bekerja. Saat itu aku dan seorang temanku yang sesama PNS berada di kantor BKD daerah, memasukkan berkas lamaran CPNSD untuk istri ku. “Wajar lah, anak seorang kepala daerah yang sedang berkuasa mangkal dimana pun yang ia suka”. Padahal, lanjut temanku itu, dia tidak bertugas di satuan perangkat kerja BKD ini. Saat itu anak pak bupati itu seperti sedang mengamati suasana pendaftaran PNS di lingkungan BKD setempat. “ Oh, anak bupati kita ternyata jadi PNS juga” dalam benakku. Seorang yang masih muda, mungkin umurnya masih sepantaran denganku dan sama-sama memakai seragam Linmas pula.
“Biasalah lah, seorang anak kepala daerah bisa jadi PNS di daerahnya”, pikirku. Tapi aneh saja, tiba-tiba dalam pikiranku timbul persaan berlebihan tentang konsep diriku. Saat itu aku merasa menjadi seorang yang sangat sukses, hebat sekaligus merasa sangat beruntung. Apa sebab? Pertama, aku merasa bahwa aku telah sejajar dengan seorang anak kepala daerah, ya sama-sama PNS. Padahal kalau saja ada ada lembaga pemeringkat kehidupan rumah tangga yang memperingkat latar kehidupan kami, tentu saja latar “IPOLEKSOSBUD” keluarga kami sangat jauh berbeda. Seperti kata kiasan, ibarat langit dan bumi. Latar belakang kehidupan keluarga ku sangat sederhana. Orang tua yang hanya bekerja sebagai pedagang keliling dan tak pernah punya ijazah. Apalagi dari lingkup kekuasan, keluarga kami tak pernah punya akses walau untuk tingkat kekuasaan daerah terkecil sekalipun. Sangat jauh berbeda levelnya dengan seorang anak bupati. Pastinya punya koneksi yang sangat luas.
Kedua: Aku yakin, kelulusan ku menjadi seorang PNS jauh lebih murni dari anak pak Bupati ini. Meskipun tak boleh berburuk sangka, tapi faktor anak “seseorang” akan menjadi sangat diperhitungkan dalam pembagian jatah kursi PNS di suatu daerah. Belum lagi faktor-faktor primitif yang hingga saat ini belum juga hilang. Seperti putra daerah atau bukan putra daerah. Aku bukan putra daerah setempat, saat itu posisiku pasti jauh lebih sulit untuk bisa lulus seleksi PNS. Tak ada yang membekingi apalagi lagi mau main sogok. Tak punya koneksi ke siapa menyogok bahkan tak ada uang untuk disogok.
Ketiga: Aku merasa bangga dengan konsep pikiran dan cita-cita ku yang jauh lebih tinggi dari seorang anak bupati. Dulu, aku tak pernah mau apalagi untuk bercita-cita jadi “kuli” bernama PNS ini. Namun kesulitan ekonomi dan kesempatan berkarir di bidang lain tak ada, aku tak punya pilihan lain yang lebih baik. Untuk membuka suatu usaha, aku tak punya modal yang cukup. Mau bekerja di tempat atau perusahaan swasta tak ada lowongan yang cukup “baik” untuk seorang yang tak punya “siapa-siapa” ini. Untuk terus melanjutkan studi apalagi, mau gali duit dari mana? Padahal andaisaja orangtua ku mampu menyekolahkan ku lebih tinggi, kenegeri manapun aku pasti mau menempuhnya. Bahkan, hingga kini aku masih terus berharap bisa diberikan izin oleh pak bupati untuk bisa melanjutkan pendidikan lagi. Atau jika saja orang tuaku dulu bisa meminjamkan modal yang cukup untuk bisa berbisnis secara profesional, pasti akan kujalankan. Tapi dalam kenyataan hidup, inilah pilihan yang terbaik bagiku saat itu. Hanya berfikir bagaimana bisa bertahan hidup ditengah himpitan ekonomi dan selanjutnya bertekad untuk bisa meneruskan pendidikan lagi dengan gaji yang kuterima. Ya, jadi semacam batu loncatan sehingga pekerjaan sebagai PNS ini bisa dengan cepat kuakhiri dan bisa menggapai karir yang jauh lebih tinggi.
Cita-cita seseorang tentu tak bisa dijustifikasi benar atau salahnya. Seseorang akan sangat terpengaruh latar belakang kehidupannya dalam memaknai arti sebuah kesuksesan. Seorang anak yang berasal dari keluarga miskin dan terberlakang tentu punya sudut pandang yang berbeda dengan anak seorang bupati yang punya harta berkecukupan. Dari sudut pandang sosial, anak dari seorang buruh tani bisa menyelesaikan pendidikan di universitas pasti dikatakan sudah berhasil. Apalagi jika dengan latar pendidikannya ia bisa mendapatkan pekerjaan yang “lumayan” layak. Menjadi PNS misalnya, tentu disebut-sebut sudah sangat berhasil. Tapi bila anak seorang Bupati hanya punya pendidikan SI dan bekerja sebagai PNS rendahan tentu suatu kemunduran yang sangat jauh. Tentu, sebagai anak dari seorang yang sedang berkuasa pasti akan banyak diberi peluang untuk mendapatkan jabatan nantinya. Tapi tetap saja, tetingginya-tingginya jabatan PNS ya cuma jadi seorang sekertaris daerah.
Seharusnyalah anak-anak muda di negeri ini harus mau bekerja keras untuk kemajuannya. Jangan hanya mengedapankan “jurus” aji mumpung. Mumpung orang tua punya kekuasaan, mengapa harus repot-repot mencari peluang kehidupan lain yang jauh lebih tinggi. Mengapa pula harus bersusah payah bersekolah lebih tinggi hingga ke luar negeri. Sebagai anak pejabat negara, toh akan banyak kemudahan yang akan diberikan. Mungkin pikiran-pikiran seperti inilah yang menggelayut di kebanyakan anak-anak pejabat di negeri ini. Padahal jika saja mereka mau belajar lebih tinggi, dimana saja di seluh penjuru dunia, segala fasiltas sudah ditanggung oleh pemerintah. Lantas kalau begini ceritanya, bagaimana negeri ini bisa maju???

Rabu, 12 November 2008

“ANAKKU PRESIDEN”


“ANAKKU PRESIDEN”

Anakku adalah seorang Presiden”!. Tiba-tiba saja ucapan itu keluar dari bibirku. Saat itu seorang teman bertanya, bagaimana pandangan ku sebagai seorang calon ayah melihat masa depan anaknya kelak. Meskipun jawaban itu secara tiba-tiba tapi tentu itu bukan jawaban yang main-main. Bukan jawaban yang keluar begitu saja seperti angin lalu dan tanpa arti yang mendalam. Sebuah jawaban yang memiliki harapan dari relung hati paling dalam. Lebih jauh, itu adalah doa, cita-cita dan tekad seorang calon bapak untuk membuat anaknya menjadi seseorang yang “besar”. Ya, sebuah doa dan harapan yang kupanjatkan kehadirat Allah, agar kelak anakku menjadi seorang pemimpin besar, seseorang yang penuh manfaat bagi kehidupan manusia di muka bumi ini.
Tentu harapan itu bukan harapan yang sederhana. Harapan itu adalah sebuah cita-cita besar yang membutuhkan pengorbanan, kesabaran, kearifan dan keteladanan dalam mendidik anak-anakku. Penuh tantangan dan cobaan dalam mendidik putra putri kita sampai mereka mampu mandiri. Apalagi bercita-cita menjadi kan mereka menjadi seorang presiden, seorang pemimpin besar. Memang perkara cita-cita tentulah menjadi hak mereka kelak untuk memutuskannya sendiri. Hak mereka lah untuk memilih profesi yang akan ditekuninya kelak sesuai dengan bakat dan bidang yang mereka sukai. Tapi apakah sebagai orang tua tak boleh memiliki impian yang terbaik bagi putra putrinya?
Mempersiapkan dan membekali putra-putri kita sejak dini untuk menjadi yang terbaik adalah jawabannya. Idealnya seorang ayah harus mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang paling tinggi. Bahkan jika memungkinkan, menyekolahkan mereka ke sekolah dan universitas-universitas terbaik dimuka bumi ini. Sebuah tantangan yang amat sangat besar. Tantangan yang memerlukan kesungguhan, tekad dan energi yang besar. Sebuah tantangan yang memerlukan keberanian seorang ayah untuk bercita-cita demi anak-anaknya. Dan tantangan itu telah menanti di depan mata.
“Membesarkan” seorang anak bukan lah hal sepele. Sebagai seorang Pegawai negeri rendahan, hal yang paling terbayang adalah biaya yang tidak sedikit itu. Bagaimana dapat membiayai mereka kelak hingga ke pendidikan tinggi, apalagi disekolah dan universitas terbaik yang berada di luar negeri. Belum lagi masalah-masalah lain seperti bagaimana memotivasi mereka untuk punya cita-cita yang tinggi dan punya semangat yang tinggi pula untuk menggapainya. Bagaimana memicu mereka agar selalu mencoba menjadi yang terbaik. Bagaimana membentengi akhlak dan ketaatan mereka dalam agamanya. Karena begitu besar tantangan dan godaan yang akan mendera dalam kehidupan mereka kelak. Masalah pergaulan bebas, kenakalan remaja, narkotika, kehilangan motivasi dan banyak lagi masalah yang harus selalu menjadi perhatian orang tua agar putra-putrinya mampu melewatinya dengan berhasil.

Orangtua yang baik akan mendidik dengan penuh kedisplinan, kearifan dan ketauladanan. Sebagai orangtua kita harus mampu memotivasi, menyemangati dan mentauladani anaknya untuk berprestasi dan mengejar cita-cita yang tinggi. Namun bagaimana si anak bisa termotivasi bila orang tuanya saja bukan sipa-siapa, aku hanya pegawai negeri rendahan. Bagaimana mereka akan meniru menjadi pemimpin besar bila dalam lingkungan keluarga besar kami bahkan tak ada satu orang “besar” pun ada dalam silsilah keluarga ini. Namun dengan ketulusan dan untaian tetes keringatku demi pendidikan mereka, aku yakin anak-anakku akan memahaminya. Suatu saat mereka akan jadi orang “besar” itu.
Aku sadar, dalam silsilah keluarga belum ada catatan sejarah yang mengatakan ada dikeluarga besar kami yang telah pernah menjadi pemimpin dalam masyarakat. Jangankan menjadi seorang presiden, gubernur atau bupati, menjadi seorang camat atau bahkan kepala desa saja belum pernah lahir dari keluarga ini. Jadi bagaimana mungkin anak-anak kami bisa jadi seorang presiden, sudah kalah start dengan anak-anak pejabat dan pemimpin yang saat ini sudah berkuasa. Padahal seperti kita mafhumi bersama, unsur keluarga sangat menonjol untuk dapat bersaing. Baik di tingkat dunia apatah lagi di negeri kita ini. Lihat saja George Bush junior besar dengan Bush senior. Megawati Soekarno Putri, juga besar karena disokong nama besar Bapaknya. Abdurrahman Wahid atau Gusdur, bapakya juga mantan seorang mentri kabinet di jaman nya. Susilo Bambang Yudhoyono, setidaknya dia adalah menantu dari petinggi ABRI, dan masih banyak nama lainnya. Tentu saja hal-hal seperti itu sangat berpengaruh dalam membentuk koneksi-koneksi ke lingkungan kekuasaan apalagi di negeri ini. Lantas bagaimana dengan anak-anak kami yang tingkat koneksi orang tuanya mungkin baru hanya sebatas desa dan lingkungan tempat tinggal kami?? Mustahilkah..??
Aku yakin, tak ada kata mustahil di dunia ini. Apalagi jika kita berbicara dalam konteks kekinian, saat tulisan ini ku buat. Saat dunia sedang menyaksikan kelahiran seorang pemimpin dunia baru. Ya seorang pemimpin baru di Negara Adi Kuasa yang baru saja terpilih, Barrack Obama. Seorang anak dari ayah Kenya-Afrika. Seorang anak dengan latar minoritas di negeri Adi daya itu. Seseorang yang pernah terombang ambing dari Indonesia hingga afrika untuk mencari keluarga dan jati dirinya. Seseorang yang jauh dari lingkungan kekuasaan. Seseorang yang bahkan sebagian besar keluarganya Muslim, agama yang paling dibenci oleh penduduk Amerika saat ini. Seorang minoritas yang minim pengalaman. Namun kini ia telah menjelma menjadi pemimpin dunia. Menjadi Mr. Presiden di negara terbesar di muka bumi ini. Ya.. seorang barack Obama telah membuktikan. Jadi tidak ada kata yang tidak mungkin Anankku. Gantungkan cita-citamu setuinggi-tingginya dan raihlah. Jadilah orang besar nak. Jadilah orang yang mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik di bumi ini. Jadilah seorang pemimpin sejati yang selalu dirindukan oleh masyarakatmu. Doa kami orang tua mu slelalui merestuimu. Amiiin… 04 11 2008

Jumat, 17 Oktober 2008

Krisis Global

Hampir setiap hari selama lebih dari sepekan ini liputan berita selalu diramaikan dengan headlines tentang masalah krisis global. Krisis ini disebutkan berpunca karena krisis keuangan yang tengah melanda Amerika Serikat yang diakibatkan dari tunggakan kredit perumahan di negeri Paman Sam itu terus membeludak. Tunggakan kredit yang disebut “Subprime mortgage” itu perlahan tapi pasti telah meluluhlantakkan likuiditas bank-bank disana. Selanjutnya apa daya, karena awalnya adalah dari Amerika maka mau tak mau krisis terus merambat dampakya keseluruh dunia, jadilah yang disebut krisis global. Negara super power yang jadi nenek moyang nya system keuangan liberal dan menjadi fondasi sistem keunganan dunia itu kalau sudah goyang pasti juga akan menggoyangkan sendi-sendi perekonhttp://en.wikipedia.org/wiki/Centrinoomian negara-negara dunia lainnya. Jangankan Asia, Negara-negara di Eropa & Australia yang dikabarkan punya fondasi keuangan yang gagah pun mulai kelabakan. Indonesia??? Apalagi.. Negara yang eksport, import, investasi, dan system pembayaran internasionalnya sangat tergantung dari Amerika ini, sudah pasti jadi hampir setengah kiamat menghadapinya, kalau tak mau dibilang lebih parah daripada yang empunya problem. Ini terbukti dari terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dunia lainnya terutama dollar Amerika. Disusul dihentikannya perdangan di bursa saham Indonesia (09/10/08) sebagai akibat dari terus menurunnya harga saham-saham yang diperdagangkan. Tak tanggung-tanggung, aktivitas bursa Indonesia lumpuh selama tiga hari berturut-turut.

Penghentian bursa saham ini pun kemudian menjadi berita utama yang secara kontiniu disuguhkan pada masyarakat Indonesia. Apalagi kejadian semacam ini adalah yang pertama kali terjadi sejak perdagangan bursa ada di negeri ini. Bahkan mungkin ini menjadi berita utama di belahan dunia lainnya, karena belum ada bursa lain yang tutup akibat imbas krisis gelobal ini. Kehidupan perekonomian masyarakat secara tidak langsung pun jadi terimbas. Sektor perkebunan yang menjadi andalan masyarakat Indonesia ikut hancur. Entah dari mana hubungannya rakyat pun tak tahu, tapi yang pasti harga komoditas sawit dan karet yang menjadi tumpuan ekinoomi masyarakat jatuh bahkan hingga lebih dari 70%. Membuat rakyat jadi sesak karena harus terus menerus dihadapkan pada segala macam krisis. Dimulai dari krisis ekonomi pada tahun 1997, krisis pangan, krisis energi, dan yang sekarang terjadi krisis global terjadi susul menyusul.

Kasihan masyarakat, padahal mereka tidak tahu ujung pangkal persoalan ini, apalagi untuk turut andil menjadi penyebabnya. Tapi apa lacur, mau tak mau mereka harus juga merasakan dampaknya, bahkan mereka pula yang paling terbebani dalam menghadapinya.

Sebagai orang awam dan orang yang kehidupannya juga bergantung pada sector pertanian turut hancur itu, mau tak mau saya jadi ikut terus memikirkan nya. Kenapa harus kami, masyarakat awam dan petani-petani yang di pedesaan ini yang harus ikut memanggul dampak krisis yang terus-terusan ini. Padahal sebagaimana yang diberitakan di media-media, penyebabnya adalah nun jauh di negeri Amerika sana. Negeri yang jauh sekali jaraknya bahkan jauh pula dari pikiran kami. Negeri yang kami sebut negeri antah berantah karena nenek moyang kami pun tak pernah menceritkannya pada kami, apalagi untuk menginjakkan kaki di negeri Amerika itu.

Tak pelak lagi, mulai dari presiden, wapres, hingga pengamat dan penasehat investasi dan keuangan terus menerus mengulas kejadian ini. Bahkan cenderung mengajak masyarak untuk berinvestasi di dunia saham. “ini saat yang tepat untuk membeli saham dan instrument-instrumen investasi lainya. Karena harga yang terjadi saat ini sedang sangat murah, dan pasti akan rebound kembali di masa depan”, ulas para pakar-pakar tersebut. Analisis itu tentu akan sangat menarik bagi pemain-pemain saham dan dan orang yang memang berkecimpung disitu. Tapi bagi kami orang yang tinggal jauh dipelosok pedesaan, kami hanya bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi dari berita-berita yang ada. Jangan kan ikut berinvestai seperti ajakan pengamat tadi, bagaimana bentuk saham, bagaimana proses dan dimana membeli saham itupun masih diawang-awang dalam pikiran kami

Yah..dasar nasib jadi wong ndeso, kami hanya bisa ikut merasakan dampak buruk dari berbagai krisis yang terus menerus diberitakan kepada kami. Kami tak pernah megerti duduk persoalannya, apalagi ikut andil menjadi penyebabnya. Kami hanya termangu mendengar kejadian demi kejadian, krisis demi krisis yang diberitakan media. Bagaimana mungkin kami bisa menikmati kesempatan dan keuntungan dari kondisi rebound yang diperhitungkan dari para analis investasi itu. Padahal mungkin sebagaian orang-orang yang punya dana segar dikota sana, saat ini sudah merauh untung yang fantastis dari kondisi keungan seperti ini. Sebut saja dalam sepekan ini mungkin sudah miliaran rupiah angka keuntungan yang mereka dapat dari bermain valas dan saham yang mulai rebound itu. Tapi bagi kami orang-orang pelosok yang terpinggirkan ini hanya bisa merasakan pahit getirnya dampak yang disebut krisis itu, tanpa tahu bagaimana caranya agar dapat juga menikmati kesempatan seperti mereka.